google-site-verification=jFyTJI-T7Y3r1xmXrIMhxykkqrLsMPmd8WK3qEitoOo Berbagi Ilmu

Blogroll

Rabu, 05 Juli 2023

Beberapa Kisah Teladan Aisyah Istri Rasulullah


 

ADA sebuah kisah teladan Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri nabi Muhammad . Kisah Aisyah itu terkait dengan sedekah yang dilakukan Aisyah ra di  bulan Ramadhan. Kisahnya tentu mengandung pelajaran yang sangat bermakna.

Berikut beberapa kisah teladan Aisyah ra. tersebut:

Kisah teladan Aisyah ra: Sedekah di bulan Ramadhan

 

Ummul Mukminin Asiyah ra. merupakan seorang istri yang gemar bersedekah dan sangat dermawan. Pada suatu ketika ‘Aisyah mendapat sedekah uang sebesar 100,000 (seratus ribu) dirham. Beliau yang saat itu sedang berpuasa membagi-bagikan uang itu tanpa sisa, padahal di rumah beliau tidak punya apa-apa.

Saat sore tiba, Aisyah memanggil pembantunya agar menyiapkan buka puasa. Dalam waktu yang tidak lama si pembantu datang dengan membawa sepotong roti dan minyak. Selanjutnya pembantu tersebut mengatakan, “Sesungguhnya jenengan bisa seandainya berkenan menyisakan barang satu dirham dari uang yang tadi dibagikan untuk membeli daging buat buka puasa!”

Aisyah mengatakan, “Oh iya. Seandainya kamu tadi mengingatkan aku, tentu aku melakukan hal itu.”

Hikmah Kisah Kedermawanan dan kemurahan hati Aisyah dalam kisah di atas adalah ciri khas dan karakter akhlak yang terpuji serta permata yang sangat mahal dalam dirinya, yang patut menjadi contoh para muslimah.

 

Dikutip dari buku ‘Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu’anha, Potret Wanita Mulia Sepanjang Zaman’ karya Sayyid Sulaiman An- Nadwi, dijelaskan bahwa sifat-sifat dan kemuliaan akhlaknya benar-benar mewarisi sifat ayahnya, Abu Bakr Ash-Shiddiq.

Abdullah bin Zubair berkata “ Aku tidak pernah melihat dua wanita yang lebih dermawan melebihi Aisyah dan Asma binti Abu Bakr Ash-Shiddiq. Aisyah dia mengumpulkan sesuatu dengan sesuatu, ketika sudah terkumpul banyak, dia membagi-bagikannya, adapun Asma, maka sedikitpun dia tidak menyimpan untuk besok.” ( HR. Bukhari)

Kisah teladan Aisyah ra:

Pada suatu ketika ada orang miskin menemuinya dan meminta diberi makan, saat itu di hadapan Aisyah terdapat anggur. Lalu dia berkata kepada seseorang, “Ambillah biji gandum dan berikan kepadanya.” Namun si miskin tersebut terus-menerus memandangi gandum tersebut.”

Aisyah pun bertanya, “Apakah anda terheran-heran? Menurutmu biji gandum ini berapa mitsqal?” Aisyah seakan menyinggung firman Allah :

 فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az Zalzalah:7)

Kisah teladan Asiyah ra: Menghabiskan 100.000 dirham untuk sedekah

Dalam riwayat lain, Muawiyah pernah mengirimkan 100.000 dirham kepada Aisyah, lalu Aisyah membagi-baginya sampai tidak tersisa sedikitpun. Barirah berkata, “Anda sedang berpuasa. Kenapa anda tidak membeli daging untuk kita seharga satu dirham?”

Lalu Aisyah berkata, “Kalau aku ingat, maka aku akan lakukan.”

 

Kisah teladan Aisyah ra: Sedekah roti

Aisyah lebih mementingkan orang lain yang lebih membutuhkan dibanding dirinya sendiri dalam masalah berbuka puasa. Pada suatu ketika ada seorang miskin yang datang dan meminta-minta kepada Aisyah, saat itu sedang berpuasa, dan dirumahnya ia hanya memiliki sekeping roti. Lalu Aisyah berkata kepada pembantunya, “Berikan kepadanya!”

Pembantunya berkata, “Tapi anda tidak memiliki makanan untuk berbuka puasa nanti.”

Aisyah berkata, “Berikan kepadanya!”

Lalu si pembantu mengatakan, “Baiklah.”

Kemudian pada sore harinya salah satu keluarga menghadiahkan kepada kami sebagaimana biasanya daging kambing beserta pahanya, lalu Aisyah memanggilku dan berkata, “Makanlah daging ini, ini lebih baik dibandingkan roti keringmu.” (HR. Imam Malik, Al Baihaqi)

 

Kisah teladan Aisyah ra: Sedekahkan hasil penjualan rumah

Selain itu, Aisyah tidak tamak terhadap harta. Aisyah pernah menjual rumah kepada Mu’awiyah dengan harga 180.000 dirham, ada yang mengatakan 200.000 dirham. Kemudian uang hasil pembayaran rumah itu diantarkan kepadanya, dia tidak beranjak dari tempatnya sampai uangnya habis ia sedekahkan.


Jumat, 30 Juni 2023

Karya Tulis Ilmiah Museum Bajra Sandi Bali

 Bagi siswa yang melakukan studi tour ke Bali pasti tak asing lagi dengan karya ilmiah yang harus dikumpulkan setelah melakukan studi tour. Tak perlu bingung-bingung lagi. Kalian bisa copy paste karya dibawah ini dan mengeditnya sesuai keinginan kalian. 

KARYA TULIS

MUSEUM PERJUANGAN RAKYAT BALI

(BRAJA SANDHI)

 

 




 

 

 


                                                           

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

 

 

Nama       : Khavi Andrian Gianino

Kelas        : 8B

NIS           : 13957

 

 

 

 

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 2 KARTASURA

TAHUN PELAJARAN 2022 /2023

 

PENGESAHAN

 

 

 

 

Karya tulis ini telah diterima dan disetujui oleh pembimbing,

 

 

 

Pada hari : Senin

Tanggal   : 2 Januari 2023

 

 

 

 

 

Mengetahui,

 

 

 

 

 

 

 

Kepala SMPN 2 Kartasura,                                                   Pembimbing,

 

 

 

Drs. Sarno, M.Si                                                                  Sri Sayekti, W, S.Pd.

NIP. 19641125 199512 1 003                                         NIP. 19650107 198703 2 009

 

 

MOTTO

 

 

1. "Belajar dari kegagalan adalah hal yang bijak."

2. "Berbuat baiklah tanpa perlu alasan."

3. "Disiplin diri adalah sebenar-benarnya wujud kebebasan yang hakiki."

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERSEMBAHAN

 

 

 

Karya tulis sederhana ini penulis persembahkan kepada :

 

1.      Ayah dan Ibuku tercinta, yang telah menyanyangi, mendo’akan, dan mendukung keberhasilanku

2.    Bapak Kepala SMPN 2 Kartasura, yang telah memberikan kesempatan terlaksananya kegiatan outing calass  ini

3.  Bapak/ Ibu guru SMPN 2  Kartasura yang telah membantu dan membimbing penulis menyelesaikan karya tulis ini

4.      Teman-teman, yang telah memberikan semangat untuk menyelesaikan karya tulis ini

5.      Bagi para pembaca, yang telah membaca karya tulis ini.

6.      Almamaterku, SMPN 2 Kartasura.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

        Puji syukur Alhamdulillah ke hadirat Allah S.W.T, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini dengan baik.

        Karya tulis ini penulis susun  untuk memenuhi tugas menyusun laporan pelaksanaan pembelajaran di luar kelas.

Dalam menyelesaikan karya tulis ini, penulis banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

  1. Bapak Drs. Sarno, M.Si , selaku kepala SMPN 2 Kartasura, yang telah memberikan kesempatan penulis dalam menyusun karya tulis ini
  2. Ibu Sri Sayekti, W, S.Pd, yang dengan penuh kesabaran, telah mendampingi, membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan karya tulis ini
  3.  Pihak pengelola museum yang telah memberi izin dan fasilitas yang diperlukan selama penulisan karya tulis in
  4.  Bapak/ Ibu Guru SMPN 2 Kartasura yang telah memberikan penulis bekal ilmu pengetahuan.
  5. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu

 

Semoga amal baik semua pihak yang membantu dalam karya tulis ini mendapat imbalan dari Allah S.W.T. Penulis berharap semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulis pada khususnya, dan bagi para pembaca pada umumnya.

 

                                                                        Kartasura,       Desember  2022

    

 

 

                      Penulis

 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i

HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... ii

MOTTO ............................................................................................................. iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ....................................................................... iv

KATA PENGANTAR ...................................................................................... v

DAFTAR ISI ..................................................................................................... vi

BAB I      PENDAHULUAN ............................................................................ 1

A.       Latar Belakang Masalah ............................................................. 1

B.       Ruang Lingkup Masalah ............................................................ 1

C.       Tujuan Penyusunan Karya Tulis ................................................. 2

D.       Sistematika Penulisan ................................................................. 2

BAB II    ISI ...................................................................................................... 3

A.       Keadaan Umum Pulau Bali......................................................... 3

B.       Museum Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi)........................ 6

BAB III   PENUTUP ......................................................................................... 12

A.       Kesimpulan ................................................................................. 12

B.       Saran............................................................................................ 12

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 13

LAMPIRAN ...................................................................................................... 14

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB I

 PENDAHULUAN

 

A.           Latar Belakang Masalah

Seiring dengan perkembangan dunia pariwisata di negara kita terutama peninggalan-peninggalan sejarah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke menjadi salah satu alasan diadakan karya wisata. Karya wisata merupakan suatu kegiatan rutin tahunan yang diselenggarakan oleh sekolah kami. Karya wisata tahun ini mengambil objek-objek karya wisata di Pulau Bali karena di sana banyak terdapat tempat-tempat wisata yang tersohor atau terkenal di Dunia.

Kaitanya dengan karya wisata, kami ditugasi untuk membuat laporan dalam bentuk Karya Tulis mengenai salah satu objek-objek wisata yang kami kunjungi di Pulau Bali. Setelah penulis mengumpulkan data dan bahan tentang objek wisata di Pulau Bali, maka penulis memilih judul “Museum Perjuangan Rakyat Bali (Braja Sandhi)”. Hal-hal yang mendorong penulis untuk memilih judul ini adalah :

1.    Penulis ingin mengajak pada para pembaca untuk mengenal lebih dekat tentang Museum Perjuangan Rakyat Bali (Braja Sandhi) di Pulau Bali

2.   Penulis ingin mengetahui daya tarik objek wisata di Pulau Bali sehingga banyak turis domestik dan turis mancanegara berkunjung di tempat tersebut.

3.      Penulis ingin mempelajari tentang sejarah dan perjuangan di Bali dalam bentuk karya tulis. Karya Tulis tentang “Museum Perjuangan Rakyat Bali (Braja Sandhi)”.

 

B.            Ruang Lingkup Masalah

1.        Keadaan umum Pulau Bali.

2.        Museum Perjuangan Rakyat Bali (Braja Sandhi).

 

 

C.           Tujuan Penyusunan Karya Tulis

1.        Diharapkan siswa dapat mengetahui keadaan di pulau Bali.

2.        Diharapkan siswa dapat mengetahui Wujud Fisik, Dasar Falsafah, dan Diorama tentang Museum Perjuangan Rakyat Bali (Braja Sandhi)

 

D.           Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut:

BAB I   :    PENDAHULUAN terdiri dari Latar Belakang, Ruang Lingkup Masalah, Tujuan Penyusunan Karya Tulis, dan Sistematika Penulisan.

BAB II  :    ISI terdiri dari Keadaan Umum Pulau Bali  yang berisi keadaan alam, sistem religi dan kepercayaan, Hari-hari besar agama Hindu, Macam-macam Pura, Keadaan Penduduk Bali dan Potensi di Pulau Bali dan Museum Perjuangan Rakyat Bali (Braja Sandhi) yang berisi latar belakang , wujud fisik, dasar falsafah, dan diorama.

BAB III     :       PENUTUP terdiri dari Kesimpulan dan saran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

 

A.           Keadaan Umum Pulau Bali

1.    Keadaan Alam

Bali adalah salah satu Pulau di Indonesia yang terkenal akan keindahan alamnya. Pulau Bali dijuluki dengan sebutan “PULAU DEWATA” karena konon pada jaman dahulu Pulau Bali adalah tempat tinggal para dewa. Pulau Bali terletak antara 7o LS – 8o LS dan 114o BT – 155o BT, Pulau Bali berbatasan dengan :

a.  Sebelah Utara      : Laut Bali

b.  Sebeleh Selatan   : Samudra Hindia

c.  Sebelah Timur      : Selat Lombok

d.  Sebelah Barat      : Selat Bali

Di setiap rumah penduduk Bali yang beragama Hindu, terdapat sanggah (pura kecil yang digunakan untuk sembahyang). Mereka melakukan sembahyang dengan cara memberi sesaji agar mereka diberi keselamatan oleh dewa. Karena keindahan alam, kebudayaan dan keistimewaan hidup penduduknya, maka Bali menjadi daerah wisata yang terkenal di dunia.

Mayoritas penduduk Bali menganut agama Hindu, yang merupakan salah satu dari lima agama yang ada dan diakui di Indonesia. Di Bali sistem pangairannya di sebut Subak. Sedangkan sistem pertanian yang digunakan adalah sistem Terasering. Sejak dahulu Bali mengenal istilah keluarga berencana yaitu dengan membetasi jumlah anak.

Tingkatan-tingkatan anak di Bali adalah sebagai berikut :

a.   Anak pertama diberi gelar Ngurah Gae atau Wayan

b.     Anak kedua diberi gelar Made

c.      Anak ketiga diberi gelar Nyoman

d.     Anak keeempat diberi gelar Ketut

 

2.    Sistem Religi dan Kepercayaan

Umat Hindu memiliki 5 upacara adat yang di sebut Panca Yatnya yang artinya 5 pengorbanan, yaitu :

a.    Dewa Yatnya, yaitu pengorbanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

b.    Putra Yatnya, yaitu pengorbanan terhadap roh atau leluhur yang telah meninggal

c.    Resi Yatnya, yaitu pengorbanan terhadap para pendeta

d.   Manusia yatnya, yaitu pengorbanan yang dilakukan manusia agar  hidupnya aman dan sejahtera

e.    Brita Yatnya, yaitu upacara yang dilakukan untuk makhluk hidup dunia.

Upacara adat di Bali biasanya bersifat ritual. Disamping upacara yang di sebut diatas, ada juga upacara lain yang wajib yaitu:

a.    Mapendes, yaitu upacara potong gigi yang di lakukan setiap remaja di Balai Adat

b.  Meraja Swala, yaitu upacara yang dilakukan oleh para gadis yang sedang mendapat menstruasi.

c.  Ngaben, yaitu upacara pembakaran jenazah. Tujuan dari upacara tesebut yaitu untuk memulangkan kembali roh sarta jasad manusia ke asalnya. Roh kembali kepada Tuhan, sedangkan jasad kembali kepada lima unsur alam yaitu tanah, air, angina, api dan angkasa.

3.    Hari-hari Besar Agama Hindu

a.    Hari Raya Nyepi

Hari raya ini dirayakan untuk menyambut Tahun Baru Saka. Pada hari ini masyarakat tidak melakukan aktivitas mulai dari memasak, bekerja, keluar rumah, bahkan menyalakan lampu. Suasana pada Hari raya Nyepi itu benar-benar sepi dan hening, sebab masyarakat Bali berdo’a dan beribadah sepanjang hari. Tetapi bagi yang memiliki anak kecil, boleh menyalakan lampu tapi harus minta ijin dulu kepada ketua adat atau harus diketahui oleh para tetangga.

 

b.    Hari Raya Galungan

Hari raya ini diperingati untuk merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma atau kebaikan melawan keburukan dalam kehidupan di dunia. Hari raya ini dilakukan untuk memuja terhadap alam semesta ciptaan Tuhan.

c.    Hari Raya Kuningan

Hari raya ini di peringati utnuk pemujaan terhadap alam semesta ciptaan Tuhan.

4.    Macam-macam Pura

Pura dapat di bedakan menjadi 2 macam yaitu :

a.    Klasifikasi Pura menurut pemakainya :

1)   Pura keluarga digunakan untuk 1 keluarga

2)   Pura Besakih digunakan untuk semua penduduk yang berdomisili di Pulau Bali.

b.    Klasifikasi pura menurut Fungsi :

1)   Pura Segara sebagai tempat untuk menyembah Dewa Wisnu

2)   Pura Desa sebagai tempat untuk menyembah Dewa Brahma

3)   Pura Pualam sebagai tempat untuk menyembah Dewa Syiwa

5.    Keadaan Penduduk Bali

Masyarakat hukum dari Bali yang terkenal adalah Banjar, yang dipimpin oleh Klian Banjar. Klian Banjar bertugas menyelesaikan persoalan-persoalan adat dan berwenang mengurusi masalah pertanian dan irigasi. Sistem pengairan di Pulau Bali disebut Subak yang dipimpin oleh Klian Subak.

Disamping Banjar dan Subak, juga dikenal organisasi yang disebut Seka. Seka adalah perkumpulan yang bergerak di bidang tertentu, misalnya Seka Taruna (perkumpulan pemuda), Seka Dara (perkumpulan gadis) dan masih banyak lagi. Tiap Banjar memiliki pura sendiri yang disebut Pura Desa, yakni tempat untuk memuja Dewa.

 

 

6.    Potensi Pariwisata di Bali

Pulau Bali sangat menarik perhatian para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Hal itu tidak lain karena Pulau Bali memiliki keindahan yang masih alami. Selian itu karena tingginya nilai – nilai budaya di Pulau Bali yang terlihat dengan jelas dalam bidang seni ukir, seni tari dan masih banyak lagi.

Jadi jelas bahwa Pulau Bali memiliki potensi pariwisata yang tinggi sehingga tidak mengherankan kalau Pulau Bali sangat terkenal di berbagai belahan dunia. Bali yang sejak dahulu dikenal sebagai daerah wisata merupakan kenyataan yang telah diterima dihati setiap orang yang pernah datang di Pulau tersebut. Pada umumnya hal inilah yang menarik para wisatawan untuk datang ke Pulau Bali.

 

B.       Museum Perjuangan Rakyat Bali (Braja Sandhi)

1.         Latar Belakang

Monumen adalah suatu bangunan dan tempat yang mempunyai nilai sejarah yang penting, oleh karena itu dipelihara dan lindungi oleh Negara. Dari sebuah monumen, diharapkan akan ada suatu pewarisan sistem, nilai, maupun hasil-hasil budaya fisik terbaik, terluhur, bahkan teragung kepada genersi penerusnya di abad-abad jauh kemudian.

Bali sebagai salah satu bagian Indonesia, ikut memberikan andil dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari perjuangan ini dapat dipetik beberapa nilai yang terkandung di dalamnya, seperti jiwa Patriotisme, semangat persatuan dan cinta tanah air. Nilai-nilai ini dapat diwariskan kepada generasi penerus, dapat diteladani sehingga dapat memperkuat kepribadian bangsa.Dengan kepribadian yang tangguh diharapkan dapat menanggulangi pengaruh negatif kebudayaan asing terhadap kebudayaan Bali.

Untuk melestarikan dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap warisan budaya berupa nilai-nilai kepahlawnan, jiwa patriotisme, jiwa kesatuan dan persatuan, cinta tanah air serta cinta perdamaian yang diharapkan untuk dapat diwariskan kepada generasi muda penerus bangsa, maka dipandang perlu membangun Monumen Perjuangan Rakyat Bali.

Disamping untuk menghormati para pahlawan yang telah berkorban jiwa dan raga membentuk Negara ini, juga dapat dijadikan salah satu obyek wisata Kota Denpasar.

Adegan sejarah yang disuguhkan dalam Diorama di lantai tengah dapat mendidik generasi sekarang dan generasi yang akan datang mengenai arti kebesaran perjuangan, kepribadian, kebudayaan dan martabat bangsa.

2.         Wujud Fisik

Monumen Perjuangan Rakyat Bali dibangun di areal Niti Mandala Denpasar, tepatnya di jalan raya Puputan di tengah Lapangan Puputan Margarana.

Secara tata denah Monumen berbentuk segi empat bujur sangkar simetris, menerapkan konsep Tri Mandala yaitu :

a.  Gedung/pelataran paling tengah adalah Utama Mandala (Jeroan)

b.  Pelataran yang mengitari Utama Mandala adalah Madya Mandala (Jaba Tengah)

c.  Pelataran terluar yang mengitari Madya Mandala adalah Nista Mandala  (Jaba Sisi)

Gedung Monumen yang berdiri pada Utama Mandala tersusun tiga lantai,yaitu :

a.    Lantai bawah (Nistaning Utama Mandala) terdiri dari beberpa ruang :

1.  Ruang Informasi

2.  Ruang Teknis,Ruang Pimpinan

3.  Ruang Pameran

4.  Ruang Perpustakaan

5.  Ruang Souvenir

6.  Ruang Rapat

7.  Toilet

b.    Lantai Tengah (Madianing Utama Mandala) :

Ruang Diorama, tempat dipajangkan diorama Perjuangan Rakyat Bali dari masa ke masa Lantai Atas (Utamaning Utama Mandala) merupakan Ruang Peninjauan : Tempat merenung sambil menikmati suasana keindahan di kejauhan sekeliling Monumen.

Di tengah – tengah ruang lantai bawah, terdapat telaga yang dinamai Puser Tasik, delapan Tiang Agung dan jalan tangga naik merupakan “Tapak Dara”.

Seluruh areal didukung dengan pertanaman. Pohon – pohon yang ditanam diupayakan terdiri dari tanaman tradisional Bali, terutama tanaman langka, tanaman obat dan Upakara.

3.         Dasar Falsafah

Wujud Monumen yang menjulang tinggi ke angkasa dengan pelataran yang luas mencerminkan sifat monumental dan anggun berwibawa. Secara filosofis wujud ini melambangkan Lingga – Yoni. Monumennya sendiri sebagai lambang Lingga dan dasar dari bangunan sebagai Yoni. Lingga – Yoni adalah lambang Dewa Siwa dalam aspeknya memberikan kejayaan dan kesuburan.

Kepahlawanan tercermin dari penerapan cerita Pemutaran Mandhara Giri pada bentuk bangunan dan ornament pendukungnya. Diceritakan bahwa para Dewa dan Daitya dengan semangat tinggi dan tak mengenal lelah memutar Gunung Mandhara di Kesirarnawa (Laut Susu dengan tujuan untuk mendapatkan Amertha Air Kehidupan Abadi). Cerita ini bersumber dari kitab Adi Parwa yaitu parwa pertama dari epos besar Mahabharata. Cerita tersebut mengandung suatu makna perjuangan, dimana untuk mencapai suatu hasil harus melalui kerja keras, tekun dan ulet. Bentuk segi delapan dan teratai berdaun delapan yang disebut Astadala melambangkan kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Anak tangga Kori Agung pada pelataran tengah berjumlah 17 buah, Tiang Agung yang terdapat pada kolam di tengah – tengah banguan inti berjumlah delapan buah, dan tinggi bangunan monumen dari dasar sampai puncak adalah 45 m. Bila angka – angka tersebut dirangkai akan tersusun 17 – 8 – 45 yang menunjukkan hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, yakni 17 Agustus 1945.

4.         Diorama

Diorama adalah pemandangan yang menampilkan atau menyajikan tiruan lingkuungan dan penyajiannya disajikan persis seperti aslinya. Sehingga orang yang melihatnya seakan-akan mengetahui atau menyaksikan kejadian yang sesungguhnya.

Seperti telah diuraikan di depan bahwa pada lantai tengah terpajang 33 unit diorama yang merupakan intisari Monumen Perjuangan Rakyat Bali yang menggambarkan babakan sejarah Bali, yaitu dari Bali pada masa prasejarah, Bali pada masa Bali kuno, dan Bali pada masa pergulatan fisik serta mengisi kemerdekaan.

Urutan kronologis sejarah, dimulai dari arah mata angin selatan, memutar ke kanan mengikuti arah jarum jam. Leretan putaran luar mulai dari unit 1 sampai 20; kemudian leretan putaran tengah mulai unit 21 sampi dengan 33.

Penjelasan singkat mengenai peristiwa, tokoh, waktu dan tempat kejadian tertulis pada masing – masing unit Diorama. Berikut penjelasan dari masing-masing diorama:

a.         RSI Markandeya, Abad 8 M

           RSI Markandeya sedang menyerahkan “Panca Datu” kepada pengirimnya dan tampak beberapa lembu putih.

b.        SRI Kesari Warmadewa

           SRI Kesari Warmadewa sedang menyaksikan pembuatan Tugu Kemenangan “Jayastamba” di Blanjong, Desa Sanur.

c.         Gunapriyadharmapatni dan suaminya Dharmo Dayana Warma Dewa, 989-1011 M.

           Gunapriyadharmapatni bersama suaminya Dharmo Dayana Warma Dewa sedang dihadap pembesar kerajaan di Balairung.

d.        Konsep Kahyangan Tiga dari Empu Kuturan  Abad 11

           Tampak Bule Agung, Meru dan Mraja Pati sebagai simbol dari Pura Desa, Pura Paseh dan Pura Dalem.

e.         Kehidupan Banjar Abad 11 M

           Suasana pertemuan di Bale Banjar yang di pimpin oleh Klian Banjar yang dihadiri oleh para prajurit (pengurus) banjar dan Karma (anggota) Banjar.

f.         Sistem Subak, Abad 11 M

           Pembagian air dalam sistem irigasi tradisional yang di pimpin oleh Klian Subak  beserta pengurusnya.

g.        Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten Tahun 1338 M

           Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten sedang dihadap oleh Patih Gajah Mada.Tampak Kebo Iwa seddang memimpin pembangunan Bak Agung.

h.        Pengobatan Srri Krisna Kepakisan 1347-1350 M

           Patih Gajah Mada mempersembahkan keris Ki Durga Dungkul kehadapan Sri Krisna Kepakisan sebagai Adipati di Bali atas restu Raja Majapahit.

i.          Pembangunan Pura Dasar Gelgel, Abad ke-14

           Untuk mempersatukan semua lapisan masyarakat di Bali. Dalam Ketut Ngelusir memerintahkan untuk membangun Pura Dasar Gelgel.

j.          Dalem Waturenggong, 1460-1550

           Dalam pemerintahan Dalem Waturenggong kesastraan mengalami kejayaan.Tampak raja beserta pejabat tinggi kerajaan sedang memnyaksikan pembacaan lontar dan atraksi kesenian.

k.        Masa Kejayaan Kerajaan-kerajaan Di Bali, periode Abad ke 17-19

          Peninggalan masa kerajaan antara lain: Kertagosa di Klungkung, TamanSukasada di Ujung Karangasem dan Abararaja sebagai lambing kerajaan Buleleng.

 

l.          Patih Jelantik Merobek Surat Gubernur Jendral 1846

          Patih I Gusti Ketut Jelantik dari kerajaan Buleleng sedang mrobek surat Gubernur Jendral dengan keris di depan Raja Klungkung dan utusan Belanda.

m.      Perang Jagaraga 1848-1849

          Perlawanan rakyat Bali di bawah pimpinan Patih Jelantik melawan tentara Belanda di depan benteng Jagaraga.

n.        Perang Kusumba 1849

          Laskar Kusumba di bawah pimpinan I Dewa Agung Putra Kusumba menyerang kubu pertahanan Belanda yang dipimpin oleh Jendral Michiels.Dalam perang tersebut Jendral Michiels terbunuh.

5.         Jam Buka dan Tiket Masuk

Monument Perjuangan Rakyat Bali, dibuka untuk umum setiap hari, kecuali hari – hari besar/libur resmi :

            -     Senin – Jum’at                  : 08.30 – 17.00 Wita

            -     Sabtu dan Minggu             : 08.30 – 17.00 Wita

            Tiket Masuk :

            -     Dewasa                             : Rp. 2000 / orang

            -     Anak – anak                      : Rp. 1000 / orang

            Rombongan (lokal) :

-          Dewasa                             : Rp. 1000 / orang

-          Anak – anak                      : Rp. 500 / orang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III PENUTUP

 

A.           Kesimpulan

Setelah melakukan penulisan ini penulis dapat menarik simpulan. Ternyata objek-objek wisata di Pulau Bali selalu padat dikunjungi oleh pengunjung baik dari domestik maupun pengunjung dari mancanegara.

Dari penyusunan karya tulis ini penulis bisa menarik kesimpulan :

1.     Mayoritas penduduk Bali memeluk agama Hindu. Hal ini terkait dengan banyaknya pura yang dibangun di setiap banjar atau desa maupun di setiap rumah.

2.     Museum Braja Sandhi masih banyak menyimpan Diorama sejarah pulau Bali. Ini merupakan salah satu daya tarik Museum Braja Sandhi disamping keindahan alam di sekitarnya.

3.    Dengan kebudayaan sendiri yang asli dan panorama alam yang alami, maka Pulau Bali berhasil menjadi objek wisata yang terkenal di seluruh dunia.

B.            Saran

Dari hasil penyususnan karya tulis ini maka penulis bisa memberikan saran – saran sebagai berikut:

1.     Kebudayaan merupakan warisan nenek moyang dan warisan kita bersama maka dari itu harus kita jaga dan lestarikan bersama.

2.    Mengembangkan dan meningkatkan usaha pemerintah dalam melestarikan serta menjaga kebudayaan Indonesia.

3.    Segala fasilitas, sarana dan prasarana serta pelayanan terhadap pengunjung di Museum Braja Sandhi lebih bisa ditingkatkan

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Drejen, dkk.1980. Geografi Indonesia. I dan II. Jakarta: Kinta Jakarta.

 

Koentjoronigrat. 1976. Manusiadan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Jembatan

 

Kuswato, dkk.1973. Geografi Kependudukan. Solo.

 

”............2008. Bali UPTD Monumen Perjuangan Rakyat Bali

 

”............2009. Buku Pedoman Penyusunan Karya Tulis untuk SMA. Boyolali

 

http: //www.e-banjar.com

 

http: //www.bali.co.id

 

http://www.lintasberita.com/kirimmedia/url:http://oi.blogspot.com/2007/09/prg


 

LAMPIRAN FOTO